Selamat malam Senja.
Apa kabarmu? Tampaknya kau sedang tak baik. Karena beberapa hari ini kau tak tampak anggun dengan jinggamu. Kau abu-abu. Bahkan hari ini kau menghitam. Mengapa? Mengapa kau biarkan musim huja merenggut indahmu?
Senja. Aku merindukanmu. Merindukan saat aku merangkai kata demi kata dalam luapan emosi. Marah hingga keyboardku terhentak. Menangis hingga jemari berlumuran air mata. Sedih hingga untuk bernafas sulit. Bahagia hingga berantakan menyusun cerita. Aku rindu. Aku rindu kau, Senja.
Kamis, 14 Maret 2013
Sabtu, 08 Desember 2012
Berhenti
aku sudah berhenti dari pelarianku
aku telah sampai di garis akhir, batas pelarianku
aku sudah tak takut lagi menghadapi kenyataan
karena memang sudah tak ada yang harus ditakutkan
sudah tak ada lagi yang disembunyikan
aku sudah berhenti bersikap palsu
menjadi bukan aku dan terdiam seakan bukan aku
aku bahagia menjadi diriku sendiri
tanpa perlu takut akan kamu dia atau mereka
aku kembali tersenyum bahagia dan berhenti dari segala kesia-siaan.
menata kembali hidupku yang penuh berkah
meninggalkan segala dosa yang telah ku ukir
menulis lagi cerita baru yang lebih berkualitas
tanpamu
Kamis, 27 September 2012
Cepat
Berdiri di tengah hiruk pikuk kampus
Melihat setiap tubuh yang buru-buru
Melangkah cepat, berlari mengejar
Mengejar waktu, mengejar mimpi
Ini mengapa dunia begitu cepat berubah
Karena setiap jiwa berpacu cepat
Ini mengapa setiap hati cepat berubah
Karena setiap keadaan berpadu dengan berbagai rasa
Menyebabkan segalanya mudah pudar
Menyebabkan setiap detail terlupa begitu saja
Sabtu, 11 Agustus 2012
Tanya Mengapa
Mengapa rasa yang sangat indah ini
Diabaikan dengan kejam?
Mengapa anugrah yang agung ini
Dipaksa untuk tidak dirasakan?
Mengapa menghindar jika rasa ini masih ada?
Mengapa menjauh ketika kita bisa menyatu?
Mengapa berlari ketika cinta itu memilih untuk bertahan ketimbang pergi?
Jumat, 10 Agustus 2012
Musnah
melihat apa yang tak ingin ku lihat.
rasanya itu seperti bertabrakan dengan sebuah asteroid yang membara.
panas.
merasakan pedih yang tak terkira.
rasanya seperti terluka di tempat yang sama.
padahal luka yang dulu masih basah.
sangat basah hingga kau mampu melihat darah segar menetes darinya.
mungkin ini saatnya melebur.
menghilang bersama rasa sakit yang terus mendera.
musnah bersama matinya jiwa.
apatis terhadap semua karena memang tak ada yang peduli
peduli dengan yang kurasa.
rasanya itu seperti bertabrakan dengan sebuah asteroid yang membara.
panas.
merasakan pedih yang tak terkira.
rasanya seperti terluka di tempat yang sama.
padahal luka yang dulu masih basah.
sangat basah hingga kau mampu melihat darah segar menetes darinya.
mungkin ini saatnya melebur.
menghilang bersama rasa sakit yang terus mendera.
musnah bersama matinya jiwa.
apatis terhadap semua karena memang tak ada yang peduli
peduli dengan yang kurasa.
Rabu, 08 Agustus 2012
Tangis
Aku ingin menangis dengan sekerasnya
Agar beban ini musnah
Tapi tak bisa
Apakah persediaan air mataku telah habis?
Atau aku telah lupa bagaimana cara menangis?
Atau mataku terlalu lelah untuk terus menangis?
Siapa peduli aku bisa menangis atau tidak
Siapa yang peduli aku menangis karena apa
Dan tak ada yang peduli sakitnya ini
Agar beban ini musnah
Tapi tak bisa
Apakah persediaan air mataku telah habis?
Atau aku telah lupa bagaimana cara menangis?
Atau mataku terlalu lelah untuk terus menangis?
Siapa peduli aku bisa menangis atau tidak
Siapa yang peduli aku menangis karena apa
Dan tak ada yang peduli sakitnya ini
Selasa, 07 Agustus 2012
Hening
Biarkan aku
Acuhkan aku
Lakukan hidupmu sesukamu
Karena aku cukup puas seperti ini
Mencintaimu dalam diam
Menjagamu dengan serangkai untaian doa
Memperhatikanmu dalam keheningan
Mendekap jiwamu dalam kesunyian
Terhanyut waktu karena merindumu
Terhanyut waktu karena merindumu
Biarkan aku
Acuhkan aku
Ini caraku mencintamu
Biar Tuhan yang menyampaikan
Rasa yang tak terungkap oleh lisan
Langganan:
Postingan (Atom)